Magic Fingers

By: Denny Sakrie (About Denny Sakrie on Id.Wikipedia) (Follow Denny Sakrie on Twitter) | disclaimer | This article in Bahasa Indonesia, please use your translation tool

 
Mungkin banyak yang belum mengenal eksistensi I Wayan Balawan, gitaris asal Bali yang dikenal sebagai gitaris dengan menerapkan teknik bermain gitar "Touch Style", yaitu memainkan gitar dengan tidak memetik melainkan dengan touching. Juga dikenal dengan istilah "two handed tapping technique".

Pionirnya adalah Jimmy Webster yang di tahun 1952 memperkenalkan teknik touch system ini dalam buku bertajuk "Touch System". Beberapa pionir lainnya antara lain Merle Travis dan Mark Laughlin. Touch System ini memungkinkan seorang gitaris bisa memainkan fungsi jemarinya dalam fret gitar dan bass secara simultan. Touch Style ini kerap dimainkan dalam genre rock, jazz hingga funk. Pengembang teknik ini pun kian panjang seperti Stanley Jordan, Eddie Van Halen, Allan Holdsworth, Steve Vai, Michael Manring, Michael Hedges, termasuk I Wayan Balawan di Indonesia.

Magic Finger Cover Album Balawan mengkonsep musiknya sebagai etnik global fusion. Telah merilis beberapa album termasuk yang dirilis di Jerman. Semuanya secara independen. Di penghujung tahun 2005, tiba-tiba Balawan menyeruak dengan album "Magic Fingers" dari sebuah major label Sony BMG yang sebelumnya juga pernah merilis album yang berkonotasi jazz semisal Budjana, Tohpati maupun Dwiki Dharmawan.

Di album ini Balawan masih tetap kukuh dengan etnik fusionnya.Ia masih menyusupkan ambience musik Bali seperti lagu tradisional "Djanger". Namun yang mengagetkan, album ini bergeser memihak ke pasar pop terutama ketika Balawan pun tampil sebagai vokalis meremake lagu-lagu pop seperti "Semua Bisa Bilang" (Charles Hutagalung) yang dipopulerkan The Mercy's lalu sempat dijazz-kan oleh Margie Segers (diiringi Jack Lesmana Combo pada tahun 1975), juga "Arti Kehidupan" (Oddie Agam) yang populer di tangan Mus Mujiono atau "Sesaat Kau Hadir" (Boedi Bachtiar) yang dipopulerkan Utha Likumahuwa di akhir dekade 80-an.

Tapi hal semacam ini toh bukan sesuatu yang ditabukan. Jack Lesmana dan Bubi Chen pun pernah melalukan hal semacam itu dipertengahan era 70-an. Uniknya, dalam setiap arransemen yang digarap Balawan selalu menyeruak warna khas Bali. Dalam berbagai frasa, Balawan dengan cerdik meracik bunyi-bunyian gitarnya dari yang clean hingga raw dengan distansi yang rapat.

Beberapa radio pun sudah mulai "akrab" dengan Balawan lewat lagu "Semua Bisa Bilang". Apa yang dilakukan Balawan memang mengingatkan saya pada album "Magic Touch" nya Stanley Jordan yang meremake hits Michael Jackson, The Beatles hingga Jimi Hendrix.

Selamat datang di industri musik "pop",Balawan!. Tetapi upaya Balawan juga bakal "mendidik" konsumen musik pop untuk menyimak musik yang agak "bergizi". Itu aja.